Jumat, 29 Agustus 2025

KISAH CINTA GADIS PENYEBERANGAN DAN PACE


        (Doc.kantor bupati tanah bumbu)

(Cerita KKN Tematik Berdampak FPIK ULM 2025, Desa Pulau Burung – Tanah Bumbu)

Dermaga & Gadis Penyeberangan

Dermaga Pulau Burung selalu ramai setiap pagi dan sore. Perahu kelotok silih berganti, menghubungkan warga dengan daratan seberang.
Di sanalah Rabby, gadis sederhana berambut panjang. Warga menyebutnya gadis penyeberangan, sebab senyumnya selalu hadir di balik raungan mesin perahu.

Hari itu berbeda. Mahasiswa KKN Tematik FPIK ULM datang dengan rompi krem mereka. Mereka membawa program, harapan, dan semangat untuk berbaur dengan warga. Menyeberang dengan kelotok hingga malam hari, mereka tiba di posko KKN—rumah sederhana yang dipinjamkan kepala desa. Ruangan dipisahkan untuk laki-laki dan perempuan, menjadi tempat bernaung selama sebulan pengabdian.

Di antara mereka, Rabby diam-diam memperhatikan seorang pemuda berkulit gelap dengan logat khas Papua.
“Pace,” begitu teman-temannya memanggilnya.

Ketika ada candaan, “Pacar kamu Pace,” Rabby hanya tersenyum dan diam saja.

Kopi Mangrove: Jejak Awal

Suatu siang, mahasiswa mengadakan pelatihan kopi mangrove. Buah mangrove yang biasanya dianggap tak berguna dikeringkan, digiling, lalu diseduh menjadi minuman. Warga penasaran, termasuk Rabby yang paling bersemangat.

Ia ikut menjemur buah, menyangrai, menumbuk, hingga menuang air panas ke cangkir. Pace memperhatikannya. Saat Rabby hampir tak sanggup mengangkat wajan berisi buah kering, Pace segera menghampiri.

“Biar saya bantu, Rabby. Berat itu.”
Rabby tersenyum nakal. “Kalau Pace selalu datang pas begini, aku bisa betah tiap hari.”

Suara tawa pun meledak dari mahasiswa lain. Wajah Pace memerah, tapi hatinya bergetar. Sejak hari itu, kopi mangrove bukan sekadar minuman baru bagi warga, tetapi juga jembatan hati bagi keduanya.

Buah Mangrove: Simbol Cinta

Beberapa hari kemudian, mereka kembali mengolah buah mangrove. Teksturnya keras di luar, lembut di dalam. Rabby membantu Pace mengupas, merendam, dan menumbuk buah itu.

Pace menatapnya lama. “Rabby ini berani. Cepat beradaptasi, tidak takut kotor, tidak takut gagal.”
Rabby tersenyum, matanya berbinar. “Kalau ada kamu di sampingku, apa yang perlu aku takutkan, Pace?”

Hari itu hasil olahan mangrove memang belum sempurna rasanya—agak sepat, pahit bercampur manis. Tapi bagi Rabby, hasilnya bukan sekadar pangan. Ia percaya, cinta pun seperti buah mangrove: keras di luar, namun manis bagi yang sabar menanti.

Masa Penantian di Dermaga

Waktu berjalan cepat. Sebulan KKN terasa singkat. Mahasiswa harus kembali ke kampus, meninggalkan Pulau Burung dengan segudang kenangan.

Rabby berdiri di dermaga, menatap perahu yang membawa Pace perlahan menjauh. Angin sore meniup rambutnya, air sungai beriak pelan. Ia menggenggam erat secangkir kopi mangrove.

“Pergilah, Pace… Aku tetap di sini, menunggu. Dermaga ini akan jadi saksi.”

Di kota, Pace kembali dalam tugas kuliah. Namun di hatinya, selalu ada bayangan gadis penyeberangan—yang berani mencoba, yang merayu polos, yang hadir dalam setiap kegiatan.

Menunggu Pelepasan di Tanah Bumbu

Beberapa minggu kemudian, Pace bersama mahasiswa KKN mengikuti pelepasan resmi di Kantor Bupati Tanah Bumbu. Selama dua malam di Simpang Empat, Pace tidak hanya menanti acara itu, tetapi juga merenungkan perjalanan sebulan di Desa Pulau Burung.

Suasana kota jauh berbeda dengan kehidupan sederhana di pulau. Namun kenangan Rabby selalu hadir dalam pikirannya.
Mahasiswa lain sibuk menyiapkan laporan atau beristirahat. Pace tahu, ada sesuatu yang berbeda kali ini.

Rabby Menyusul

Keberanian Rabby kembali diuji. Setelah melepas Pace di dermaga, ia tak menyangka akan bertemu lagi secepat itu. Mendengar kabar Pace berada di Simpang Empat, ia pun menyeberang dari Pulau Burung.

Perjalanan itu bukan sekadar lintasan air dan daratan, melainkan lintasan hati—dari kerinduan menuju keberanian.
Dan benar, Rabby tiba tepat di hari istimewa: ulang tahun Pace.

Perayaan Ulang Tahun Pace

Hari itu sederhana, hanya ada teman-teman KKN dan beberapa kerabat. Namun suasana berubah hangat ketika Rabby muncul dengan senyum khasnya.

Saat semua bernyanyi Happy Birthday untuk Pace, Rabby ikut bernyanyi dengan semangat. Ia bahkan mengangkat kue ulang tahun dan mengusapkannya ke dahi Pace—momen balasan dari kenangan di dermaga, ketika Rabby dulu disuapi kue oleh teman-temannya.

Kini, giliran Rabby yang membuat ulang tahun Pace tak terlupakan.

Hari Pelepasan

Dua malam pun berlalu, tibalah hari pelepasan resmi KKN di Kantor Bupati Tanah Bumbu. Wajah para mahasiswa bercampur lega, haru, dan bahagia karena pengabdian telah selesai.

Namun, di balik semua itu, tersisa satu kisah manis:

Seorang gadis desa, Rabby, yang berani menyeberang demi cinta.

Seorang mahasiswa Papua, Pace, yang menemukan arti rumah di luar tanah kelahirannya.

Sebuah dermaga sederhana, tempat semua cerita bermula, menjadi saksi cinta yang tumbuh dari kesederhanaan.

Kisah ini belum tamat. Gadis penyeberangan dan Pace masih menulis takdirnya—di antara sungai yang mengalir, mangrove yang tetap tumbuh, dan cinta yang sabar menanti.



Penulis : P. Boma